Perilaku Konsumen Motivasi – Personalitas – Emosi

15 Des

A. Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari kata lain “MOVERE” yang berarti dorongan atau daya penggerak.

Michel J. Jucius menyebutkan motivasi sebagai kegiatan memberikan dorongan kepadaseseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki.

Menurut Dadi Permadi, motivasi adalah dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, baikyang positif maupun yang negatif.

Sedangkan menurut Ngalim Purwanto, apa saja yang diperbuat manusia, yang pentingmaupun kurang penting, yang berbahaya maupun yang tidak mengandung resiko, selalu ada motivasinya. Ini berarti, apa pun tindakan yang dilakukan seseorang selalu ada motif tertentu sebagai dorongan ia melakukan tindakannya itu.

Bertentangan dengan Purwanto, Nasution membedakan antara motif dan motivasi. Motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu,

Sedangkan motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi, sehingga orang itu mauatau ingin melakukannya.

Berdasarkan deskripsi di atas, motivasi adalah keadaan individu yang terangsang yang terjadi jika suatu motif telah dihubungkan dengan suatu pengharapan yang sesuai.

Sedangkan motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukansesuatu. Motif tidak dapat dilihat begitu saja dari perilaku seseorang karena motif tidakselalu seperti yang tampak, bahkan kadang-kadang berlawanan dari yang tampak.Tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi dan dirangsang oleh keinginan, kebutuhan,tujuan dan kepuasannya. Baik yang bersumber dari dalam (internal), maupun dari luar (eksternal). Jadi, setiap kegiatan yang dilakukan individu selalu ada motivasinya.

B. Model Umum Motivasi

Model umum motivasi mempunyai empat macam komponen, yaitu :

1.Pembangkit tekanan (tension arousal )

2.Tindakan (action)

3.Sebuah perangsang (an incentive)

4.Pengurangan tekanan (tension reduction)

C. Teori Motivasi

Ada Enam teori motivasi kontemporer, yaitu :

1.Teori kebutuhan (Need Theory )

                        =>A.Teori Hierarki

KebutuhanTeori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan,yaitu:

1.Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus,istirahat dan sex

2.Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akantetapi juga mental, psikologikal dan intelektual

3.Kebutuhan akan kasih sayang (love needs)

4.Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermindalam berbagai simbol-simbol status

5.Aktualisasi diri (self actualization), setiap orang memiliki potensi-potensitertentu dan biasanya potensi tersebut cenderung ditransformasikan hinggatercapai prestasi melalui perilaku yang tepat.

 

 

 

 

 

b.Teori ERG

dikembangkan oleh Clayton Alderfer. ERG merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu :

E = Existence (kebutuhan akan eksistensi),

R = Relatedness (kebutuhan untuk berhubungan dengan pihak lain, dan

G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan)

 

c.Teori Tiga Kebutuhan

KebutuhanTeori yang dikembangkan oleh Atkinson dan David McClelland ini meliputi:

1)Achievement Motive (nAch): Motif untuk berprestasi

2)Affiliation Motive (nAff): Motif untuk bersahabat.

3)Power Motive (nPow) : Motif untuk berkuasa

 

d.Teori Dua Faktor

dikembangkan Frederich Herzberg Dua Faktor dari motivasi terdiri dari :

1)Faktor Motivasional

Faktor motivasional merupakan hal-hal yang mendorong untuk berprestasi dandorongan tersebut bersifat intrinsik atau bersumber dari dalam diri seseorang.Yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaanseseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalamkarier dan pengakuan orang lain.

2)Faktor Hygiene (pemeliharaan)

Faktor hygiene merupakan faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik, artinyabersumber dari luar diri seseorang yang turut menentukan perilaku dalamkehidupan oragn tersebut.Faktor-faktor hygiene mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi,hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang denganrekan-rekan sekerjanya, gaji atau upah yang layak, kebijakan organisasi, sistemadministrasi dalam organisasi dan kondisi pekerjaan.

 

2.Teori penetapan tujuan (Goal Setting Theory )

=> Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macammekanisme motivasional yakni :

                        A. Tujuan-tujuan mengarahkan perhatian

                        B. Tujuan-tujuan mengatur upaya

                        C. Tujuan-tujuan meningkatkan persistensi

                        D. Tujuan-tujuan menunjang strategi dan rencana kegiatan

3.Teori Penguatan (Reinforcement Theory )

            => Clark Hull, mengemukakan Drive Reduction Theory

pada tahun 1943, yang menyatakan bahwa yang terpenting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia adalah kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis.Suatu kebutuhan biologis pada makhluk hidup menghasilkan suatu dorongan (drive) untuk melakukan aktivitas memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa makhluk hidup ini akan melakukan respon berupa reduksi kebutuhan  (need reduction response).

4.Teorin Social Learning (Social Learning Theory)

=> (1954) yang diajukan oleh Julian Rotter menaruh perhatian pada apa yang dipilih seseorang ketika dihadapkan pada sejumlah alternatif bagaimana akan bertindak. Untuk menjelaskan pilihan, atau arah tindakan, Rotter mencoba menggabungkan dua pendekatan utama dalam psikologi, yaitu pendekatan stimulus-response atau reinforcement dan pendekatan cognitive atau field

5.Teori Social Cognition

            =>adalah Albert Bandura.

Melalui berbagai eksperimen, Bandura dapat menunjukkan bahwa penerapan konsekuensi tidak diperlukan agar pembelajaran terjadi. Pembelajaran dapat terjadi melalui proses sederhana dengan mengamati aktivitas orang lain. Bandura menyimpulkan penemuannya dalam pola empat langkah yang mengkombinasikan pandangan kognitif dan pandangan belajar operan, yaitu:

a.Attention, memperhatikan dari lingkungan

                        b.Retention, mengingat apa yang pernah dilihat atau diperoleh

c.Reproduction, melakukan sesuatu dengan cara meniru dari apa yang dilihat

d.Motivation, lingkungan memberikan konsekuensi yang mengubah kemungkinan perilaku yang akan muncul lagi (reinforcement and punishment ).

6.Teori Curiosity Berlyne

            => BerlynePada tahun 1960 Berlyne mengemukakan sebuah Teori tentangCuriosity

atau rasaingin tahu.

Menurut Berlyne, ketidak pastian muncul ketika kita mengalami sesuatu yang baru, mengejutkan, tidak layak, atau kompleks. Ini akan menimbulkan rangsangan yang tinggi dalam sistem syaraf pusat kita. Respon manusia ketika menghadapi suatu ketidakpastian inilah yang disebut dengan curiosity atau rasa ingin tahu.

Curiosity akan mengarahkan manusia kepada perilaku yang berusaha mengurangi ketidakpastian

D. Jenis Motivasi

Motivasi dapat diklasifikasikan menjadi dua:

1.Motivasi intrinsik, yaitu motivasi internal yang timbul dari dalam diri pribadi seseorangitu sendiri, seperti sistem nilai yang dianut, harapan, minat, cita-cita, dan aspek lainyang secara internal melekat pada seseorang

2.Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi eksternal yang muncul dari luar diri pribadiseseorang, seperti kondisi lingkungan kelas-sekolah, adanya ganjaran berupa hadiah(reward) bahkan karena merasa takut oleh hukuman (punishment) merupakan salahsatu faktor yang mempengaruhi motivasi)

E. Indikator Motivasi

Abin Syamsuddin Makmun mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya:

1.Durasi kegiatan

2.Frekuensi kegiatan

3.Persistensi atau ketekunan pada kegiatan

4.Ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan

 5.Devosi atau kesetiaan dan pengorbanan untuk mencapai tujuan

6.Tingkat aspirasi atau cita-cita yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan

7.Tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yangdilakukan

8.Arah sikap terhadap sasaran kegiatan

 

F. Kesimpulan

Motivasi adalah keadaan individu yang terangsang yang terjadi jika suatu motif telah dihubungkan dengan suatu pengharapan yang sesuai. Sedangkan motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif  tidak dapat dilihat begitu saja dari perilaku seseorang karena motif tidak selalu seperti yang tampak, bahkan kadang-kadang berlawanan dari yang tampak. Dari tujuan-tujuan yang tidak selalu disadari ini, kita dipaksa menghadapi seluruh persoalan motivasi yang tidak disadari itu. Karena teori motivasi yang sehat tidak membenarkan pengabaian terhadap kehidupan tidak sadar.Dari banyaknya pandangan yang berbeda mengenai motivasi yang mungkin dikarenakan oleh penggunaan metode observasi yang berbeda-beda, studi tentang berbagai kelompok usia dan jenis kelamin yang berbeda, dan sebagainya, terdapat model tentang motivasi yang digeneralisasi yang mempersatukan berbagai teori yang ada.

Ada macam-macam motivasi dalam satu perilaku. Suatu perbuatan atau keinginan yangdisadari dan hanya mempunyai satu motivasi bukanlah hal yang biasa, tetapi tidak biasa.Karena suatu keinginan yang disadari atau perilaku yang bermotivasi dapat berfungsi sebagai penyalur untuk tujuan-tujuan lainnya. Apabila dapat terjadi keseimbangan, hal tersebut mencerminkan ”hasil pekerjaan” seseorang yang berhadapan dengan potensinya untuk perilaku, yang dapat diidentifikasi sebagai ”kemampuannya”. Jadi, motivasi memegang peranan sebagai perantara untuk mentransformasikan kemampuan menjadi hasil pekerjaan

PERSONALITAS (KEPERIBADIAN)

 

Menurut Freud keprobadian terdiri dari tiga sistem yaitu :

1. Das Es(the Id), yaitu aspek biologis dan merupakan sistem yang original di dalam kepribadian, dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Freud menyebutnya juga realitas psikis yang sebenar-benarnya. Oleh karena Das Es itu merupakan dunia batin atau subyektif manusia, dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif. Dan Es berisikan hal-0hal yang dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis), termasuk instink, daqn es merupakan reservoir energi psikis yang menggerakkan das Ich dan das ueber ich. Energi psikis di dalam das es itu dapat meningkat oleh karena perangsang dari dalam. Apalagi energi itu meningkat, maka lalu menimbulkan tegangan, dan ini menimbulkan pengalaman tidak enak yang oleh das es tidak dapat dibiarkan, karena itu apabila energi meninhgkat yang berarti ada tegangan, segeralah das es mereduksikan energi itu untuk menghilangkan rasa tidak enak itu. Jadi yang menjadi pedoman dalam berfungsinya das es adalah menghindarkan diri dari ketidakenakan dan mengejar keenakan. Pedoman ini disebut Freud “prinsip kenikmatan”.

2. Das Ich atau dalam bahasa Inggris the ego. Aspek ini adalah aspek psikologis daripada kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Oran yang lapar pasti perlu makan untuk menghilangkan tegangan yang ada dalam ketegangannya, ini berarti bahwa organisme harus dapat membedakan antara khayalan tentang makanan dan kenyataan tentang makanan . disinilah letak perbedaan yang pokok antara das es dan das ich, yaitu kalau das es hanya mengenal dunia subyektif (dunia batin) maka das ich dapat membedakan sesuatu yang hanya ada dalam batin dan sesuatu yang ada di dunia luar (dunia obyektif, realitas). Di dalam berfungsinyadas ich berpegang pada “prinsip kenyataan” atau realitas dan bereaksi dengan proses sekunder. Tujuannya ialah mencari obyek yang tepat untuk mereduksikan tegangan yang timbul dalam organisme. Proses sekunder ialah proses berpikir realistis dengan mempergunakan proses sekunder das ich merumuskan suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya untuk mengetahui apakah rencana itu berhasil tau tidak misalnya, orang lapar merencanakan dimana dia dapat makan lalu pergi ke tempat tersebut untuk mengetahui apakah rencana tersebut berhasil atau tidak. Perbuatan ini secara teknis disebut reality testing.

Das Ich dapat pula dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian, oleh karewna das ich ini mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta cara-cara memenuhinya, serta memilih obyek-obyek yang dapat memenuhi kebutuhan, di dalam menjalankan fungsi ini seringkali das ich harus mempersatukan pertentangan-pertentangan antara das ich dan das ueber ich adalah derivat dari das es dan bukan untuk merintanginya, peran utamanya ialah menjadi perantara antara kebutuhan-kebutuhan instinktif dengan keadaan lingkungan, demi kepentingan adanya organisme.

3. Das Ueber Ich, adalah aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya, yang dimasukkan (diajarkan) dengan berbagai perintah dan larangan. Das Ueber Ich lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan, karena itu das ueber ich dapat pula dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya yang pokok ialah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat.

Das Ueber Ich diinternalisasikan dalam perkembangan anak sebagai response terhadap hadiah dan hukuman yang diberikan oleh orang tua. Dengan maksud untuk mendapatkan hadiah dan menghindari hukuman anak mengatur tingkah lakunya sesuai dengan garis-garis yang dikehendaki oleh orang tuanya. Apapun juga yang dikatakannya sebagai tidak baik dan bersifat menghukum akan cenderung untuk menjadi “conscientia” anak, apapun juga yang disetujui dan membawa hadiah cenderung untuk menjadi ich ideal anak. Mekanisme yang menyatukan sistem tersebut kepada pribadi disebut inrojeksi. Jadi das ueber ich itu berisikan dua hal, ialah conscientia dan ich ideal. Concsientia menghukum orang dengan memberikan rasa dosa, sedangkan ich ideal menghadiahi orang dengan rasa bangga akan dirinya. Dengan terbentuknya dasueber ich ini maka kontrol terhadap tingkah laku yang dulunya dilakukan oleh orang tuanya menjadi dilakukan oleh pribadi sendiri, moral yang dulunya heteronom lalu menjadi otonom.

Personalisasi adalah dimensi yang lebih kritikal bagi perubahan klien.

Dikatakan kritikal, karena ia menekankan peragasukmaan tanggung jawab klien

akan masalah-masalahnya; dan mencakup arah di balik materi yang

diekspresikannya. Manakala konselor mengatakan lagi secara akurat kepada

ekspresi-ekspresi klien, ia memudahkan pemahaman klien akan dimana dirinya

berada sekaitan dengan keinginan dan kebutuhannya

Jenis dan Langkah Personalisasi :

I. Personalisasi Makna

 Personalisasi makna adalah langkah pertama ke arah memudahkan

pemahaman klien akan di mana dirinya berada dalam hubungan dengan keinginan

atau kebutuhannya. Konselor mempribadikan makna, saat ia menghubungkan

makna secara langsung dari pengalaman-pengalaman klien.

                        -Personalisasi makna meliputi tiga tahapan yaitu pempribadian tema-tema

umum (common themes), peragasukmaan pengalaman-pengalaman (internalizing

experiences) dan pempribadian implikasi-implikasi (personalizing implications).

2. Personalisasi Masalah-Masalah

Personalisasi masalah-masalah adalah peralihan yang kritikal ke arah langkah

tindakan. Ia merupakan peralihan dari masalah-masalah yang diperoleh dari

tujuan-tujuan; kemudian dari tujuan-tujuan kita peroleh program-program

tindakan.

3. Personalisasi Tujuan-tujuan

Personalisasi tujuan-tujuan adalah langkah peralihan yang sederhana dalam

proses konseling. Jika konselor mendapatkan personalisasi masalah secara efektif,

maka ia harus mampu untuk mempribadikan tujuan secara mencair. Personalisasi

tujuan-tujuan meliputi penetapan keinginan klien dalam kaitannya dengan tempat

dirinya berada. Cara dasar personalisasi tujuan-tujuan adalah menentukan

perilaku-perilaku yang menghadapkan kepada pempribadian masalah. Jadi,

tujuannya dapat dijelaskan sebagai pembalikan masalah. Dalam hal ini, tujuan

klien adalah tetap tidak berubah dari pembalikan personalisasi masalah atau

kekurangan. Denga kata lain, apakah yang menjadi keinginan-keinginan klien

untuk mampu melakukan tindakan.

Emosi

  1. 1.    Pengertian Emosi

Emosi adalah perasaan yang telah meningkat pada tataran tertentu. Jadi emosi adalah bagian dari perasaan, sehingga perasaan belum tentu merupakan emosi. Karena sifatnya tergantung seberapa tingkatannya, maka untuk menggambarkan emosi dilakukan dengan menunjukkan ciri-cirinya. Adapun ciri-cirinya yang pokok adalah sebagai berikut :

a. Emosi merupakan suatu luapan gerak atau gejolak perasaan. Orang yang sedang menghayati perasaan biasa tidak dapat dikatakan sedang mengalami emosi, jika kemudian perasaan itu tiba-tiba berubah sebagai gejolak, luapan atau gerak yang dihayatinya. Misalnya seorang anak iri dengan temannya, minta sebuah baju baru kepada ibunya. Mula-mula dengan perasaan biasa. Tetapi karena ibunya menolak, maka ia menjadi marah. Anak tersebut sekarang sudah mengalami emosi.

b. Emosi merupakan aspek psikis yang dialami dan disadari oleh orang yang bersangkutan. Orang atau anak yang mengalami emosi dapat menghayati, bagaimana selama ia mengalami emosi itu. Seorang yang marah merasa misalnya dadanya sesak, mukanya panas, urat lehernya tegang. Demikian pula dengan orang terkejut; ia merasa denyut jantungnya sebentar berhenti dan diikuti debaran yang kuat. Smua itu dapat dihayati oleh orang bersangkutan.

c. Emosi merupakan aspek psikis yang bentuk tingkah laku eksplisitnya sering kali dapat diamati oleh orang lain. itulah sebabnya, seorang anak dapat mengatakan, bahwa temanny itu sedang sedih, karena ia mengetahui temannya itu duduk sambil menengkurapkan mukanya di atas meja disertai isak tangisnya yang tidak henti-hentinya dan kadan-kadang memukul-mukulkan tangannya di atas meja itu.

d. Emosi merupakan aspek psikis yang dalam kelangsungannya sering membawa efek perubahan organis. Orang yang terkejut dengan sangat dapat pingsan, karena terjadi perubahan fungsi-fungsi organis, yaitu terjadinya over produksi insulin, yang kemudian masuk ke dalam aliran darah dan kemudianmengakibatkan turunya kadar glikose dalam darah.

2. Macam-macam Emosi
Setiap orang menanggap, bahwa emosi itu identik dengan marah. Tentu saja pendapat itu salah. Emosi pengertiannya lebih luas dari pada marah. Selain marah, ada juga emosi duka cita (distress), rasa nikmat (delight), takut (fear), riang gembira (elation), suka cita (joy), iri hati (jealousy), benci (hate), terkejut (schock) dan sebagainya. Jadi, macamnya emosi adalah sama dengan macamnya perasaan yang telah meningkat pada taraf tertentu, berarti tidak terbatas pada marah saja.

3. Aspek-aspek Motivasi dalam Emosi
Bebrapa aspek motivasi dapat mempengaruhi timbulnya emosi seperti dapat dikemukakan pada beberapa ilustrasi berikut :

a. emosi dapat timbul, jika seorang anak mengalami suatu kebutuhan yang kuat yang kuat, yang belum terpenuhi. Contoh, seorang anak yang pulang dari sekolah dalam keadaan lapar. Tetapi sesampainya di rumah, tidak bisa makan, karena disuruh melukakan pekerjaan . iapun marah. Perintah melakukan pekerjaan mungkin akan lain akibatnya, jika dilakukan setelah anak makan.

b. Emosi dapat timbul jika kebutuhan yang dirasakan mendapat rintangan dalam memenuhinya. Seorang anak membutuhkan pujian. Pujian itu dapat diperoleh dengan memenangkan perlombaan. Tetapi betapa kecewanya, menjelang perlimbaan dilaksanakan namanya dicoret dari daftar peserta.

c. Emosi dapat timbul jika tujuan yang akan dicapai, yang dapat memenuhi kebutuhannya tiba-tiba dialihkan. Seorang anak mempunyai cita-cita untuk memasuki fakultas hukum setelah tamat SMA. Tetapi oleh orang tuanya dipaksakan agar memasuki fakultas ekonomi, agar kelak dapat meneruskan perusahaan orang tuanya. Ia menjadi sangat kecewa.

4. Gangguan Emosi
Emosi positif adalah emosi yang dihayati dengan matan dan akan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan. Sebaliknya, emosiyang dihayati dengan tidak matan dapat menimbulkan macam-macam akibat yang tidak menguntungkan dalam kehidupan, baik bagi anak anak yang bersangkutan, maupun bagi anak yang lain. maka dikatakan, bahwa anak mengalami gangguan emosi. Penyebab ganguan emosi beracam-macam, misalnya karena kegagalan-kegagalan dalam mencapai tujuan atau cita-cita, oleh kondisi patologis ataupun oleh kekacauan fungsional.

Dari penelitian-penelitian menunjukkan bahwa berhasilnya pendidikan tidak semata tergantung pada tingkat kecerdasan anak. Faktor emosi ternyata sangat mempengaruhi. Sebagai contoh, karena pengakuan yang mantap terhadap kewibawaan seorang pendidik, peserta didik akan lebih memperhatikan pelajaran yang diajarkan oleh pendidik. Demikian pula jenis-jenis emosi yang lain, seperti rasa takut, benci, bosan terhadap mata pelajaran. Sifat mudah putus asa di dalam mengerjakan tugas pekerjaan rumah. Kebosanan yang terus menerus akan sangat mempengaruhi prestasi pendidikan peserta didik.

Oleh karena beberapa pengalaman emosional dapat memberikan efek-efek yang negatif, maka pendidikan di sekolah maupun luar sekolah perlu dilaksanakan demikian sehingga mempengaruhi terbentuknya sikap emosional yang menuju keada kematangan.

Akhirnya ekspresi yang bersifat emosional itu juga merupakan faktor yang sangat penting di dalam pelajaran, disamping pentingnya dalam lapangan kesehatan mental. Oleh karena itu di sekolah diberikan mata pelajaran yang besifat ekspresi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: